Bandung – Pukul 06.30 WIB, lapangan utama SMA Negeri 9 Bandung nampak berbeda. Jika biasanya upacara bendera dipandang sebagai rutinitas yang melelahkan di bawah terik matahari, kali ini suasana khidmat terasa lebih mendalam. Melalui pendekatan Upacara Berkesadaran (Mindful Ceremony), sekolah ini mencoba mendefinisikan ulang makna di balik baris-berbaris dan penghormatan bendera.

Bukan Sekadar Baris-Berbaris

Pernahkah kita merenungkan sebait lirik dari Pupuh Asmarandana yang berbunyi:
“Eling-eling mangka eling, rumingkang di bumi alam, dharma wawayangan bae, raga taya pangawasa…”
Lirik ini bukan sekadar nyanyian lama, melainkan sebuah alarm filosofis yang sangat tajam bagi kita, para pelajar masa kini. Ada tiga poin penting yang bisa kita petik untuk kehidupan kita di sekolah dan di dunia digital:
1. “Eling-eling Mangka Eling” (Kesadaran Diri)
Kata “Eling” berarti sadar. Di zaman sekarang, kita sering kali “tidak sadar” karena terlalu asyik dengan layar ponsel. Kita sadar sedang scrolling, tapi tidak sadar waktu terbuang. Kita sadar sedang berkomentar, tapi tidak sadar telah menyakiti orang lain. Filosofi ini mengajak kita untuk kembali sadar akan jati diri kita sebagai pelajar yang memiliki tugas utama menuntut ilmu.
2. “Dharma Wawayangan Bae” (Etika dan Peran)
Lirik ini menyebutkan bahwa kita di dunia ini ibarat wayang yang sedang menjalankan peran. Artinya, raga kita ini terbatas, tidak memiliki kuasa mutlak. Sebagai pelajar, peran kita adalah belajar dan berbakti. Jika kita menyimpang dari peran tersebut—misalnya lebih mementingkan gaya hidup daripada prestasi—maka kita telah kehilangan harmoni dalam hidup.
3. “Nafsu nu Matak Kaduhung” (Bahaya Impulsivitas)
Bagian paling krusial adalah: “Lamun kasasar lampah, nafsu nu matak kaduhung, badan anu katempuhan.”

Jika kita salah melangkah karena hanya menuruti nafsu—baik itu nafsu untuk membolos, nafsu untuk ikut-ikutan tren yang negatif, hingga nafsu untuk menang sendiri—maka akhirnya adalah penyesalan.

Di era digital, “nafsu” ini sering berwujud keinginan untuk viral dengan cara yang salah atau emosi sesaat di media sosial. Ingatlah, ketika jempol atau tindakan kita berbuat salah, maka seluruh diri kita yang akan menanggung akibatnya. Nama baik kita, masa depan kita, dan orang tua kita yang akan “katempuhan” atau terkena dampaknya.

Rekan-rekan siswa yang saya banggakan,
Filosofi Asmarandana ini mengajarkan kita tentang pengendalian diri. Pelajar yang hebat bukan hanya mereka yang nilai matematikanya seratus, tapi mereka yang mampu mengendalikan “nafsunya” untuk tetap berada di jalan yang benar (eling).

Mari kita jadikan sekolah ini bukan hanya tempat mencari nilai, tapi tempat mengasah kesadaran. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena masa muda yang habis hanya untuk menuruti keinginan sesaat tanpa makna.
Jadilah pelajar yang eling, pelajar yang waspada, dan pelajar yang mampu menjaga kehormatan dirinya.

Dengan mengedepankan aspek berkesadaran, upacara Senin pagi tidak lagi menjadi beban fisik, melainkan menjadi ritual penyelarasan diri antara tubuh, pikiran, dan rasa cinta tanah air. Langkah ini diharapkan mampu membentuk karakter generasi muda yang tidak hanya patuh pada aturan, tetapi memiliki kedalaman makna dalam setiap tindakan mereka.

Mari kita jadikan filosofi Asmarandana sebagai kompas: Sadar dalam berpikir, Bijak dalam melangkah, dan Berani bertanggung jawab atas masa depan sendiri. Jangan biarkan nafsu sesaat merusak raga dan masa depan yang berharga.