
BANDUNG – Dalam upaya membangun karakter peserta didik yang beriman, bertakwa, serta menjunjung tinggi nilai kebhinekaan, SMAN 9 Bandung konsisten menjalankan program pembiasaan pagi bertajuk Saresehan (Salapan Religi, Sembilan Toleran).
Program yang mengusung angka identitas sekolah (Salapan/Sembilan) ini menjadi ruang inklusif bagi seluruh siswa untuk mengawali aktivitas belajar dengan beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.
Setiap pelaksanaan program, peserta didik yang beragama Islam berkumpul di lapangan atau masjid sekolah untuk menunaikan salat Dhuha berjemaah, dilanjutkan dengan zikir dan doa bersama. Di waktu yang bersamaan, siswa non-Muslim menggunakan ruangan khusus yang telah disediakan sekolah untuk melaksanakan ibadah bersama, perenungan kitab suci, dan doa pagi.
Membangun Pondasi Moral dan Inklusivitas
Kepala SMAN 9 Bandung menegaskan bahwa program pembiasaan ini dihadirkan untuk membentuk ekosistem sekolah yang ramah, damai, dan saling menghargai.
“Program Saresehan ini bukan sekadar rutinitas sebelum masuk kelas, melainkan ikhtiar kami dalam menanamkan pondasi moral dan kesadaran spiritual siswa sejak dini. Kami ingin memastikan SMAN 9 Bandung menjadi rumah yang inklusif, di mana setiap siswa mendapatkan hak dan ruang yang sama untuk beribadah,” ujar Kepala SMAN 9 Bandung.
Beliau juga menambahkan bahwa penamaan “Salapan Religi, Sembilan Toleran” mengakar pada semangat kebangsawan budaya lokal sekaligus identitas SMAN 9 Bandung.
“Melalui ‘Salapan Religi’, kita membiasakan nilai-nilai keagamaan. Melalui ‘Sembilan Toleran’, kita menegaskan bahwa perbedaan keyakinan adalah kekayaan yang harus kita jaga bersama di lingkungan sekolah,” imbuhnya.
Tujuan dan Fungsi Program
Secara berkelanjutan, program Saresehan di SMAN 9 Bandung memiliki beberapa tujuan dan fungsi strategis:
-
Pembiasaan Ketaatan Ibadah: Mengajak siswa disiplin mengawali hari dengan mengingat Tuhan, sehingga ibadah Dhuha maupun ibadah bersama non-Muslim menjadi kebutuhan spiritual harian.
-
Kesiapan Mental Belajar: Menjadi momen penenang pikiran dan refleksi diri agar siswa siap menerima pelajaran dengan fokus dan ketenangan emosional.
-
Praktik Toleransi Nyata: Menghilangkan sekat perbedaan di antara siswa dan mengajarkan sikap saling menghormati antarumat beragama secara praktis, bukan sekadar teori di dalam kelas.
Kesan positif juga dirasakan langsung oleh para peserta didik. Salah seorang perwakilan siswa menyampaikan rasa nyamannya terhadap kegiatan pembiasaan ini.
“Kami merasa sangat dihargai. Saat teman-teman yang Muslim melaksanakan salat Dhuha, kami yang non-Muslim juga punya ruang tenang untuk beribadah dan berdoa bersama. Kegiatan pagi ini bikin suasana sekolah terasa harmonis dan kompak,” ungkap salah satu siswa SMAN 9 Bandung.
Harapan Masa Depan
Melalui keberlanjutan program Saresehan “Salapan Religi, Sembilan Toleran” ini, keluarga besar SMAN 9 Bandung berharap dapat melahirkan generasi muda yang seimbang antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.
Lulusan SMAN 9 Bandung diharapkan tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi berakhlak mulia, toleran, serta siap menjadi pelopor persatuan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
Redaksi : Humas SMAN 9 Bandung
Dokumentasi by : Tim Kokurikuler






